Radio PPMI Mesir

Apa itu rebo wekasan ?

Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan merupakan istilah jawa yang merujuk tradisi yang dilakukan pada hari rabu terakhir di bulan safar dalam kalender islam, yang bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT agar dihindarkan dari segala balabencana.

Sejarah singkat rebo wekasan ?

Asal mulanya istilah rebo wekasan ini, bermula ketika ada sebagian ulama pada zaman dahulu yang mendapatkan ilham atau pengetahuan bahwa  bulan safar ini adalah bulan Tasa’um (Bulan Sial) yakni bulan turunnya penyakit, kesengsaraan, bencana dan musibah lainnya, terlebih lagi ketika hari rabu terakhir pada bulan tersebut. Sehingga dari pernyataan mereka berijtihad untuk melakukan beberapa amalan yang dianjurkan nabi ketika seseorang mempunyai hajat yaitu dengan mendirikan sholat hajat dengan maksud meminta permohonan kepada Allah SWT agar dihindarkan dari bala bencana tersebut.Namun kendati demikian, ada beberapa ulama yang berbeda pandangan dalam menyikapi tradisi rebo wekasan ini.Adapun untuk istilah “rebo wekasan”sendiri merupakan istilah masyarakat jawa dalam penyebutannya.

Apakah boleh berpandangan pesimis dalam menyikapi suatu waktu ?

 

Grursus mal suada faci lisis Lorem ipsum dolarorit more a ametion the is consectetur elit. Vesti at bulum nec odio aea the dumm more ipsumm ipsum the consectetur elit.

Dalam islam,  tidak ada bulan atau waktu yang berjalan sendiri dengan membawa kesialan dan keberuntungan. Sejatinya semua kesialan dan keberuntungan bergantung kepada kehendak Allah SWT, bukan pada bulan atau tanggal tertentu. Bahkan ketika seseorang berpandangan pesimis seperti ini  justru akan membuka pintu bala’ itu sendiri, sebagaimana penegasan Allah SWT dalam hadits qudsi yang menyatakan bahwa Allah sesuai perasangka hambaNya tentang dirinya, oleh karena itu alangkah baiknya untuk senantiasa berpandangan optimis serta husnudzon dalam setiap waktu sehingga terciptalah kebaikan-kebaikan yang dilakukan.

 Tradisi rebo wekasan, apa yang dapat kita lakukan ?

Imam abdurrauf al-Munawy dalam kitab Faidh al-Qadir jilid 1, halaman 62 telah menjawab dengan baik, bahwa tradisi amalan yang dikerjakan dalam rebo wekasan sejatinya diperbolehkan akan tetapi dengan niat yang baik dan benar, yakni dengan amalan yang dikerjakan bukan karena hari Rabu atau bulan Safar itu bulan sial, tetapi lebih kepada amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT misalnya bertaubat, bukan karena takut sial Rebo Wekasan, tetapi karena mensucikan diri dari dosa, Pun ketika shalat, diniatkan saja shalat hajat.

Selain amalan tersebut alangkah baiknya mengerjakan kebaikan dengan niat ikhlas beribadah  memperbanyak doa, beristigfar, membaca al-Quran dan lain sebagainya, agar menjadi suatu tradisi atau kebiasaan yang memperoleh keberkahan serta hidayah Allah SWT.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X