Radio PPMI Mesir

Oleh: Muhammad Fajri Ahsan

Mengapa Kita Harus Berhenti Memunggungi Laut?
Sering kali kita mendengar narasi kalau Indonesia itu negara agraris yang besar karena tanahnya subur. Tetapi, jika kita mau jujur dan membuka lagi buku sejarah lebih dalam, identitas asli kita sebenarnya ada di ombak, bukan cuma di tanah. Sejarawan O.W. Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce sudah lama mematahkan anggapan kalau kita cuma jadi penonton saat pedagang India dan Tiongkok lewat. Wolters menjelaskan kalau pelaut Nusantara-lah yang sebenarnya jadi “otak” di balik ramainya perdagangan dunia saat itu. Bayangkan saja, di saat bangsa lain masih takut melaut karena urusan kepercayaan atau keterbatasan teknologi, nenek moyang kita sudah berani membelah samudra.
Kehebatan ini bukan sekadar klaim sepihak. Robert Dick-Read dalam buku The Phantom Voyagers membongkar fakta keren soal jejak pelaut Nusantara yang sampai ke Madagaskar, Afrika. Mereka menyeberang sejauh itu bukan pakai kapal modern, tapi pakai teknologi perahu cadik yang sangat stabil. Bahkan James Hornell dalam jurnal-jurnal maritimnya mencatat kalau desain kapal kita ini saking canggihnya sampai ditiru oleh banyak bangsa lain di sekitar Samudra Hindia. Kita itu sebenarnya pengekspor teknologi navigasi pertama, jauh sebelum bangsa Eropa datang membawa kompas mereka.
Bahkan kalau kita tarik lebih jauh ke belakang, buku Sapiens karya Yuval Noah Harari mencatat bahwa manusia pertama yang berhasil menaklukkan lautan terbuka adalah mereka yang menyeberang dari wilayah kita menuju Australia sekitar 45.000 tahun lalu. Ini membuktikan kalau DNA pelaut itu sudah ada sejak manusia pertama menginjakkan kaki di sini. Sayangnya, identitas hebat ini perlahan dibuat pudar oleh kolonialisme. Seperti yang dijelaskan Adrian B. Lapian, bapak sejarah maritim kita, penjajah sengaja menjauhkan kita dari laut agar lebih mudah dikontrol di daratan. Sekarang, tugas kita sebagai generasi baru adalah menyadari kalau laut bukan cuma air yang memisahkan pulau, tapi jembatan yang menyatukan masa depan kita. Sudah saatnya kita berhenti memunggungi laut dan mulai melihatnya sebagai rumah yang sebenarnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X