Radio PPMI Mesir

Reporter: Nurul Azizah & Divana Herliana

Kairo, Selasa (24/2/2026) – Sebuah sesi diskusi bertajuk “Di Balik Layar Aktivisme Kemanusiaan: Menguatkan Solidaritas Global untuk Gaza” digelar di Teras Imbur, Darrasah pada Selasa (24/2). Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Hartono (Guru Budi Hartono), International Partnership Supervisor dari Gaza Desa Organization (GDD), Istanbul, Turki, sebagai pembicara utama.

Dalam sesi talk tersebut, pembicara mengajak peserta melihat lebih dalam realitas kerja kemanusiaan internasional yang sering kali tidak terlihat di permukaan. Aktivisme kemanusiaan, menurutnya, bukan hanya tentang empati atau penggalangan bantuan, melainkan sebuah kerja panjang yang penuh strategi, risiko, serta dinamika geopolitik yang kompleks.

Muhammad Hartono menjelaskan bahwa bantuan kemanusiaan di Gaza dijalankan melalui sistem yang terstruktur. Bantuan tidak hanya berupa distribusi darurat, tetapi juga dibagi ke dalam program jangka pendek dan jangka panjang. Program darurat difokuskan pada penyelamatan korban, penyediaan kebutuhan pokok, serta respons cepat ketika krisis memuncak. Sementara itu, program lanjutan diarahkan pada proses pemulihan, seperti penyediaan layanan medis, rehabilitasi fasilitas umum, hingga upaya membangun kembali kehidupan masyarakat secara bertahap.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa efektivitas bantuan kemanusiaan sering kali menghadapi berbagai hambatan. Akses distribusi yang terbatas, penutupan wilayah, serta kondisi konflik yang belum mereda membuat sebagian bantuan harus disalurkan melalui jalur tidak langsung, bahkan terkadang melalui jalur komersial yang memerlukan biaya administrasi cukup besar. Situasi ini menuntut lembaga kemanusiaan untuk terus beradaptasi agar bantuan tetap dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Selain tantangan teknis, pembicara juga menyoroti kompleksitas sumber bantuan global. Dukungan datang dari berbagai negara dengan latar belakang kepentingan yang beragam, sehingga kerja kemanusiaan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari dinamika politik internasional. Dalam kondisi tersebut, lembaga kemanusiaan dituntut untuk tetap menjaga orientasi utama mereka, yakni berpihak pada korban dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam pemaparannya, Hartono juga menggambarkan kondisi Gaza yang secara geografis sangat terbatas. Wilayah ini memiliki luas sekitar 365 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai sekitar dua juta jiwa. Selama hampir tujuh dekade berada dalam situasi penjajahan dan konflik, masyarakat Gaza harus bertahan di wilayah sempit dengan berbagai keterbatasan.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga. Akses terhadap kebutuhan dasar seperti makanan, pekerjaan, dan sumber penghasilan menjadi sangat terbatas. Dalam beberapa situasi, masyarakat bahkan terpaksa melakukan sistem barter atau saling menukar barang karena keterbatasan uang tunai.

Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan juga membuat sebagian warga harus bertahan dengan sumber makanan yang sangat terbatas. Dalam kondisi darurat, tidak jarang mereka memasak tumbuhan liar atau rumput yang tumbuh di sekitar tenda pengungsian sebagai upaya untuk bertahan hidup.

Melalui diskusi ini, peserta diajak memahami bahwa solidaritas global terhadap Gaza tidak cukup berhenti pada rasa simpati. Dibutuhkan pemahaman yang lebih mendalam, konsistensi dukungan, serta keterlibatan nyata dalam upaya kemanusiaan yang berkelanjutan.

Talk session ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk melihat bahwa di balik setiap bantuan yang sampai kepada masyarakat Gaza, terdapat proses panjang yang melibatkan kerja kolektif, koordinasi lintas lembaga, serta komitmen kuat untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah situasi yang penuh tantangan.

 

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X