Radio PPMI Mesir

NOW AIRING : Loading ...

Rahmah El-Yunusiah: Sang Pionir Hak-hak Pendidikan Perempuan

Sudah tak asing lagi ketika kita mendengar sosok Pembaharu Perempuan yang biasa kita sebut-sebut ketika dalam perayaan hari nasional, sebut saja ‘Kartini’. Padahal, realitanya banyak sekali para pahlawan wanita yang mendobrak kedudukan perempuan pada saat itu, mempertahankan hak-haknya agar bisa menyelaraskan dengan kaum adam, salah satunya dalam dunia pendidikan. Akan tetapi sedikit sekali untuk mengetahuinya, yang menjadi salah satu faktor ‘malasnya membaca sejarah’, yang memang sudah melekat di dalam tubuh manusia.

Sosok wanita nan jauh disana, berlokasikan di Padang Panjang, namanya Rahmah El-Yunusiah, lahir pada tanggal 26 Oktober 1900,di Nagari Bukit Surungan, Padang Panjang, Hindia Belanda, Sang Reformator Pendidikan Islam dan Pejuang Kemerdekaan Indonesia, serta Pendiri Diniyah Putri. Hingga, perguruan saat ini telah meliputi taman kanak-kanak hingga sekolah tinggi. Beliau juga membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Padang Panjang dalam Revolusi Nasional Indonesia guna melawan Penjajah Belanda dan sekutu.

Awal perjalananya, bukanlah dari medan perang, melainkan beliau pernah menuntut ilmunya di Diniyah School yang dipimpin abangnya, Zainuddin Labay El Yunusy. Tidak puas dengan sistem edukasi yang mencampurkan pelajar putra dan putri. Ia berinisiatif ingin mempelajari ilmu agama secara mendalam ke beberapa para ulama yang ada di Minangkabau. hal itu, tak lazim bagi seorang wanita pada awal abad ke-20 di Minangkabau.

Sewaktu pendudukan Jepang, Rahmah memimpin Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perwira Giyugun. Pada masa kemerdekaan, ia memelopori berdirinya TKR di Padang Panjang dan mengerahkan muridnya ikut serta melawan penjajah walaupun mereka hanya menyanggupi dalam menyediakan makanan dan obat-obatan. Dalam pemilu 1955, Rahmah terpilih sebagai anggota DPR mewakili Masyumi, tetapi tidak pernah lagi menghadiri sidang, setelah ikut bergerilya mendukung Pemerintahan Revolusiner Republik Indonesia (PRRI).

Pendiri Sekolah Perempuan Rahmah El – Yunisiyah, yang berjuang dengan mendirikan sekolah sekaligus mengangkat senjata. Ia mempertaruhkan jiwa raganya demi agama. Jilbabnya yang berkibar, menandakan didikan dan penanaman agamanya sangat kuat pada dirinya. “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus memulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya ” ucapnya pada saat itu. Ia merasa gelisah ketika melihat perempuan di daerahnya belum mendapatkan pendidikan yang sama seperti yang didapatkan oleh laki-laki, terutama dalam pendidikan agama. Padahal, Islam pun tidak membatasi perempuan dalam menuntut ilmu. Ia tidak ingin kaumnya masih terjerat dengan kebodohan . Karna ia sadar benar, hanya pendidikanlah yang bisa memajukan kaumnya dan mengeluarkan kaumnya dari ketertinggalan.

Ketika mencapai usia 23 tahun. Rahmah nampak begitu istimewa untuk perempuan seusianya. Keinginan besarnya untuk memajukan keilmuan kaumnya dan mengeluarkan kaumnya dari kebodohan yang begitu bergelora. Karna bagi Rahmah sendiri, Wanita memiliki peran besar dalam kehidupannya, terutama dalam hal rumah tangga. Karna, rumah tangga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang negara. Tentulah ia tidak ingin kaumnya tertinggal oleh kaum laki-laki dal hal sepitar pendidikan.

Hingga akhirnya, pada tanggal 01 November 1923, Rahmah dengan dukungan dari kakaknya, Zaenudiin Labay dan teman-teman perempuannya di PMDS (Persatuan Murid-murid Diniyyah School) memutuskan untuk mendirikan sekolah khusus perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah li al-Banat yang bertempatan di Masjid Pasar Usang. Saat itu, muridnya masih berjumlah 71 orang yang terdiri dari ibu-ibu muda, termasuk Putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Pelajaran yang diajarkan yaitu ilmu agama dan tata bahasa arab. Namun belakangan sekolah ini, menerapkan pendidikan modern dengan menggabungkan pendidikan agama, pendidikan sekuler dan pendidikan keterampilan.

“Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan secukupnya daripada kaum lelaki, inilah yang menyebabkan terjauhnya penerangan perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilian” ujarnya.

Tiga tahun kemudian, gempa hebat menggucang Sumatera Barat pada tahun 1926, bangunan sekolah dan asrama yang baru ia rintis luluh lantak, meski begitu Rahmah tidak menangis, Rahmah langsung bangkit kembali. Dengan susah payah, ia membangun kembali sekolahnya dengan batangan bambu dua lantai berukuran 12 x 7 m2 dan menghimpun kembali para muridnya. Namun, hal itu rupanya tak cukup. ia menjelajahi Aceh bersama pamannya, hingga menyeberangi Selat Malaka untuk mencari bantuan dana ke Malaysia. Ternyata usahanya tidak sia-sia. Ia pun akhirnya mengumpulkan dana yang cukup besar, sekitar 1569 gulden.

Hubungannya dengan Al-Azhar Kiprahnya dalam memajukan pendidikan bagi perempuan, tidak hanya berhenti di Diniyyah Putri School saja, tapi juga mempelopori sekolah khusus perempuan.

Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syeikh Abdurrahman Tah sedang berkunjung ke Diniyyah Putri School, ia tertarik dengan sistem pembelajaran khusus yang ada di sekolah tersebut. lalu, dari situlah kampus Islam tertua di Dunia membuka pendidikan khusus perempuan yang bernama Kulliyatul banaat. memang, pada saat itu Al-Azhar belum memiliki sekolah pendidikan khusus perempuan. Dari rektor Al-Azhar ini pula, pada tahun 1957, Rahmah mendapat gelar Syaikhah, gelar istimewa itu, hanya diperuntukkan orang-orang yang ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman. Gelar tersebut setara dengan gelar Syeikh Mahmoud Shaltout yang merupakan mantan Rektor Al-Azhar.

Sufitri Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *